Sidrap, Kapolres Sidrap Akbp Fantry Taherong memimpin upacara penutupan latihan kerja (latja) siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulsel di lapangan apel presisi Polres Sidrap, Kamis (7/5/26) pagi. Di sela-sela penutupan, Kapolres juga memberikan penghargaan kepada seluruh siswa yang dinilai menunjukkan kinerja, kedisiplinan, dan semangat tinggi selama mengikuti kegiatan.
Penutupan Latja sebanyak 74 siswa tersebut digelar setelah 15 hari para siswa melaksanakan praktik langsung di lapangan mengenai teori tugas kepolisian yang didapatkan selama mengikuti pendidikan di SPN Polda Sulsel. Dari kegiatan tersebut diharapkan para siswa mampu melaksanakan tugas dengan baik setelah dilantik nanti.
Dalam arahannya, Kapolres Sidrap menyampaikan terima kasih kepada seluruh siswa karena dalam pelaksanaan latihan kerja tidak ada yang melakukan pelanggaran. Menurutnya, meski singkat namun semoga apa yang diperoleh selama latja mampu mengubah karakter dan menjadi bekal menghadapi tugas kepolisian ke depan
“Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Polres Sidrap, termasuk Wakapolres, para Kabag, perwira, serta seluruh personel dan ASN, atas dukungan dalam pelaksanaan penutupan latihan kerja (Latja) siswa SPN Polda Sulsel. Latja merupakan bagian penting dari proses pendidikan dalam membentuk calon anggota Polri yang profesional, khususnya sebagai personel Brimob Polri” ujar Kapolres Sidrap
Kapolres berharap seluruh pengalaman yang diperoleh selama Latja dapat diimplementasikan saat bertugas nantinya di lapangan. Ia menekankan pentingnya integritas, semangat, dan dedikasi tinggi sebagai landasan utama dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri.
“Saya berpesan agar para siswa bisa memilah apa yang didapatkan dengan membawa hal yang baik serta meninggalkan hal-hal yang jelek selama melaksanakan latihan kerja di Polres Sidrap” lanjutnya
Di akhir sambutannya, Kapolres berharap para siswa dapat menjadi Bintara Polri yang berprestasi serta mampu memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Menurutnya perkembangan dunia pendidikan saat ini telah mengalami perubahan yang sangat signifikan, baik dari segi pola pembinaan maupun pengasuhan. Fantry mengatakan angkatan ini harus lebih baik daripada angkatan sebelumnya
“Sebagaimana pepatah, “Education is the most powerful weapon to change the world,” yang berarti pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Oleh karena itu, ketika adik-adik berada dalam lembaga pendidikan, nikmati setiap prosesnya. Proses tersebut adalah pembentukan diri menjadi insan Bhayangkara yang siap melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.” Tutupnya


